Merakit angklung Sarinande (set 1 oktaf, 8 nada: Do-Do') melibatkan penyusunan tabung bambu bernada bulat (diatonis) ke dalam rangka bambu, diikat dengan rotan, dan diatur dari nada terendah ke tertinggi. Angklung Sarinande berfokus pada nada dasar C, sering digunakan untuk pendidikan musik dasar.
Berikut adalah panduan merakit angklung set Sarinande:
· Komponen: Satu set terdiri dari 8 angklung (Do rendah hingga Do tinggi) atau 13 angklung (Sarinade plus) yang terdiri dari tabung bambu dan rangka/pegangan.
· Urutan Nada: Susun angklung berurutan dari yang terbesar (nada rendah/Do) ke yang terkecil (nada tinggi/Do') agar mempermudah permainan.
· Perakitan:
1. Pastikan tabung bambu (biasanya bambu hitam atau ater) sudah disetel nadanya.
2. Pasang tabung suara pada rangka bambu.
3. Ikat bagian atas angklung menggunakan rotan secara kencang namun fleksibel agar bambu bisa bergetar dan menghasilkan suara yang nyaring.
· Posisi: Angklung yang sudah dirakit digantungkan pada gawang angklung (rak) atau dipegang langsung saat dimainkan.
Angklung Sarinande dirancang agar mudah dimainkan oleh anak-anak atau pemula untuk menghasilkan nada diatonis sederhana.
Angklung Sarinande
Angklung sarinande adalah istilah untuk angklung padaeng yang hanya memakai nada bulat saja (tanpa nada kromatis) dengan nada dasar C. Unit kecil angklung sarinade berisi 8 angklung (nada Do Rendah sampai Do Tinggi), sementara sarinade plus berisi 13 angklung (nada Sol Rendah hingga Mi Tinggi)
Sejak tahun 2010, angklung telah menjadi Warisan Budaya Lisan dan Takbenda Manusia United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco).
Perlu diketahui, angklung memang dikenal sebagai alat musik tradisional yang berkembang di daratan Sunda atau wilayah Jawa Barat.
Tetapi tahukah anda sejarah alat musik yang dimainkan dengan cara digoyang atau digetarkan ini?
Angklung biasanya dibuat dengan jenis bambu hitam (Awi wulung) atau bambu ater (Awi temen), yang mempunyai ciri khas berwarna kuning keputihan saat mengering.
Angklung dirangkai dengan mengumpulkan 2 hingga 4 tabung bambu beda ukuran dan dirangkai menjadi satu dengan cara diikat dengan rotan.
Sejumlah sumber menyebutkan, angklung telah dikenal sejak Sunda masa lampau. Instrumen angklung digunakan dalam berbagai acara, khususnya perayaan bercocok tanam.
Di masa itu, Angklung dimainkan sebagai bentuk pemanggilan kepada Dewi Sri atau Dewi Kesuburan.
Konon, kata angklung berasal dari bahasa Sunda “angkleung-angkleung”, yang artinya gerakan pemain dengan mengikuti irama. Sementara kata “klung” adalah suara nada yang dihasilkan instrument musik tersebut.
Setiap nada dihasilkan dari bentuk tabung bambu yang berbeda ukuran. Sehingga jika digoyangkan akan menghasilkan melodi indah yang enak didengar.
Dalam pengembangan angklung, kreativitas Daeng Soetigna sejak sekitar tahun 1930-an turut memberikan warna baru bagi seni pertunjukan, khususnya pada perkembangan angklung. Pengembangan awal yang dilakukan Daeng Soetigna adalah dengan cara memodifikasi angklung sebagai salah satu alat bantu atau alat peraga dalam pendidikan musik supaya disenangi murid. Upaya yang dilakukannya turut memotivasi serta menambah daya tarik pembelajaran para anak didiknya. Kreativitas yang dilakukan Daeng adalah menambah tangga nada alat musik angklung tradisional yang tadinya dominan bertangga nada salendro ditambah dengan angklung yang bertangga nada diatonis (7 nada). Pada tahapan selanjutnya Daeng memodifikasi angklung diatonis yang tadinya hanya tujuh nada dengan menambah beberapa nada sisipan sehingga tangga nada angklung yang dihasilkan menjadi diatonis kromatis (12 nada). Selain menambah tangga nada diatonis-kromatis pada angklung, Daeng juga melakukan modifikasi dengan membentuk sekelompok alat musik angklung untuk keperluan orkes atau ensambel musik angklung untuk keperluan permainan bersama. Angklung tujuh nada dikenal dengan nama angklung sarinande, istilah untuk angklung Padaeng yang hanya menggunakan nada dasar C tanpa nada kromatis. Terdapat dua unit angklung sarinande, yaitu angklung unit kecil yang berisi 8 angklung (dari nada do rendah sampai do tinggi) dan angklung sarinande plus terdiri dari 13 buah angklung (dari nada sol rendah hingga mi tinggi). Angklung tersebut oleh Daeng dimodifikasi kembali didasarkan pada bentuk serta fungsinya secara musikal. Hasil modifikasi ini selanjutnya dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu angklung melodi, angklung bas, angklung kord, dan angklung akompanimen. Bentuk angklung melodi terdiri dari dua tabung (besar dan kecil) dalam satu ancak (rangka)-nya. Tabung besar untuk bunyi nada pokok sedang tabung yang kecil merupakan bunyi nada satu oktaf yang difungsikan untuk memperkuat bunyi yang dihasilkan.

Komentar
Posting Komentar